Category Archives: Parenting

Trik Jitu Cukupi Kebutuhan Nutrisi Dan Dukung Eksplorasi Si Kecil

Halo ibu mayke, anak saya rhesa (6,3) sekarang kelas 1 sd, namun belum bisa baca dan tulis. Apakah ada hubungannya dengan tangannya yang kidal? Bagaimana cara merangsang keinginannya untuk mudah mengingat apa yang sudah ia pelajari ? Mohon ban tuannya, ya bu. Terima kasih. Sheila j iskandar– jakarta

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Saya anjurkan Sheila membawa Rhesa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak atau ke Biro Konsultasi Psikologi yang memberikan layanan asesmen psikologis terhadap kemampuan anak. Saya khawatir terjadi kelambatan pada perkembangan Rhesa, bisa pada aspek kognitif atau mungkin pada aspek lainnya . Apakah perkembangan Rhesa sejak bayi mengalami keterlambatan? Misal, usia berjalan lebih dari 15/16 bulan? Usia 2 tahun belum mampu mengucapkan kata-kata tunggal?

Usia 3 tahun belum mampu menyebutkan kalimat yang terdiri dari tiga kata atau lebih? Usia 4 tahun belum mampu menceritakan kembali kejadian yang dialami anak? Apabila jawabnya “ya”, berarti tidak menghe rankan kalau di usia 6,3 tahun, Rhesa belum mampu membaca dan menulis kata-kata sederhana. Kemampuan baca dan tulis tidak bergantung pada kidalnya seseorang. Jadi, sebaiknya Sheila segera merujuk si kecil ke ahlinya.

Enam bulan ingin diajak berenang

Dokter rifan yang baik, anak saya andrew (usia 6 bulan , berat 1o,5 kg), bolehkah mulai diajak berenang? Apa manfaatnya? Per alatan apa yang mesti saya sediakan supaya si kecil aman berenang? Kalau pakai pelampung, yang di leher, di pinggang, atau di tangan? Mohon saran dokter rifan. Terima kasih. Carla – jakarta Ibu Carla yang baik, mengenalkan “olahraga ” berenang pada si kecil tidak ada masalah. Manfaatnya tentu lebih kepada faktor rekreasi dan kesenangan psikologis si kecil. Mengenai jenis pelampung yang digunakan sebaiknya yang paling aman untuk si kecil, tampaknya pelampung di leher yang lebih aman mengingat faktor keseimbangan tubuh saat ia berada di dalam air lebih terjaga. Yang terpenting, ia selalu harus dalam pengawasan ketat, air kolam yang hangat, tidak bercampur dengan banyak orang dan diusahakan agar si kecil tidak sampai kedinginan dan ia dalam kondisi yang sehat.

Wah! Menunjukkan Ketertarikan

Lalu kapan kita menyadari bahwa si batita siap bicara? Yaitu ketika batita mulai tertarik dengan benda-benda atau apa pun yang ada di sekelilingnya. Peran orang dewasa di sekitarnya sangat besar untuk membantu batita mengenali atau menyebut benda yang ia maksudkan tersebut. “Adik lihat bola, ya? Ini namanya bola, bentuk bulat, warnanya merah, juga bisa berputar.” Ikuti minat atau eksplorasi batita terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan alami.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Saat ada tamu datang ke rumah dan si batita menghampiri, kita bantu dengan mengenalkannya, “Ini namanya Kakak Fani. Ayo, dong, bilang, ‘Halo, Kakak Fani…’” Jika batita belum merespons dengan tepat, tidak perlu dipaksa karena mungkin ia belum tertarik melakukannya. Kita bisa mencobanya di lain kesempatan. Selain itu, dianjurkan untuk tidak terlalu banyak mengoreksi usaha batita saat bicara. Saat ia baru bisa mengatakan “cucu” atau “usus” saat menginginkan susu, kita tidak perlu mengoreksi tetapi membantu mengulang kata tersebut dengan pengucapan yang benar.

“Oh, Kakak mau susu ya? Ini susunya.” Jangan memaksanya untuk mengulangi perkataan itu dan menuntutnya untuk mengucapkan kata “susu” dengan tepat saat itu juga. Perkembangan anak bisa juga sulit ditebak. Kita mungkin sudah cukup aktif mengajak bicara, tetapi ia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mengucapkan kata-kata. Tetapi saat sudah tidak diharap-harap, mendadak si batita bisa bicara. Seperti yang dialami Fira ketika tiba-tiba saja Arfi bicara dengan cukup panjang, “Itu, ada bapaknya!” sambil menunjuk kucing kecil dan kucing besar yang melintas di depan mereka.

Yang penting, menurut Ika, kita perlu mewaspadai keterlambatan bicara jika sampai usia 3 tahun si batita belum juga mengucapkan minimal 20 kata. “Segera lakukan evaluasi pada pola pengasuhan. Mungkin batita terlalu banyak terpapar layar teve atau orang di sekitar batita kurang aktif mengajaknya bicara. Lalu lakukan perubahan dalam memberikan stimulasi. Jika dalam satu bulan tidak ada perkembangan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan pakar,” saran Ika.

Sumber : pascal-edu.com

Kabar Baik Terapi Kesuburan

Menurut laporan hasil pengamatan selama 20 tahun yang dilakukan oleh para ahli di Denmark, janin yang dikandung oleh mama yang menjalani tera pi kesuburan memiliki risiko lebih kecil untuk lahir prematur ataupun meninggal dalam kan dungan. Selain itu, angka bayi yang lahir de ngan berat badan rendah atau mening gal dalam kurun waktu satu tahun pertama hidupnya juga sangat kecil. “Hasil pengamatan ini memperlihatkan, terapi kesuburan memiliki efek penting bagi kesehatan bayi yang nantinya dilahirkan,” kata Dr. Anna-Karina Aaris Henningsen, salah satu pakar dari University of Copenhagen, Denmark.

Dilanda Mood Swing

Perubahan hormon akibat kehamilan sangat bisa mengubah pe rangai Mama. Misalnya, pernyataan pasangan yang biasanya membuat Mama tertawa, kini terdengar basi dan mengganggu. Mama jadi sulit mengontrol mood dan bingung sendiri dengan perubahan yang tiba-tiba. Agar komunikasi dengan pasangan tak lantas tegang, namai saja mood swing atau perubahan mood tiba-tiba Mama dengan panggilan lucu. Atau, sepakati kode khusus untuk suami, sehingga ia tahu kapan harus diam dan memberikan ruang untuk Mama.

Bayi Tak Butuh Lingkungan Steril

Apa resep agar daya tahan tubuh bayi da pat terbentuk op timal, sehingga tak mudah sakit sekaligus tidak ren tan terhadap alergi? Pastikan pen cernaannya terpapar oleh berbagai mikroorganisme, ujar Christine Cole Johnson, PhD, MPH, dari Department of Public Health Sciences, Henry Ford Hospital. Mik robioma atau bakteri pencernaan adalah sekumpulan mikroorganisme yang terdapat di saluran pencernaan dan berperan penting dalam perkembangan sistem daya tahan tubuh.

“Riset menunjukkan, paparan bakteri pencernaan pada bulan-bulan pertama kehidupannya bisa membantu merangsang sistem daya tahan tubuh bayi,” kata Dr. Johnson. Hasil riset juga memperlihatkan, bayi yang mengonsumsi ASI pada bulan pertama dan keenam memiliki komposisi mikrobioma yang dapat memengaruhi perkembangan sistem daya tahan tubuhnya. Selain ASI, terdapat beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi komposisi mikrobioma pencernaan, antara lain usia gestasional saat bayi dilahirkan, metode persalinan, dan keberadaan hewan peliharaan di rumah.

Vaksinasi Yang Tidak Menyakitkan

Tangisan bayi ketika divaksinasi itu ternyata bukan semata-mata lantaran kaget, melainkan karena benar-benar kesakitan. Rasa sakit ini menghasilkan pola yang konsisten dan menonjol pada aktivitas otaknya, demikian menurut studi yang dimuat di jurnal PAIN, publikasi resmi dari International Association for the Study of Pain.

Pola aktivitas otak yang terekam dalam alat elecroencephalography (EEG) ini sesuai dengan pola perilaku yang ditunjukkan oleh bayi, seperti ekspresi wajah, tangisan, serta gerakannya. Tak heran bila vaksinasi yang tampaknya tidak berbahaya justru bisa menjadi sumber ketakutan dan stres bagi bayi dan anak-anak, apalagi mengingat tindakan ini dilakukan secara rutin selama beberapa tahun pertama kehidupan anak. Dari riset ini, peneliti merekomendasikan adanya manajemen rasa sakit selama proses vaksinasi, supaya rutinitas ini tidak perlu jadi momok bagi bayi maupun orangtua.

Dan ketika anak telah tumbuh besar kelak, sebaiknya berikan ia pelatihan di kursus IELTS terbaik di Jakarta untuk menghadapi tes ujian masuk universitas. Karena dengan persiapan yang matang akan membantu anak dalam menggapai impiannya kuliah di universitas ternama. Dengan pengajar yang profesional, akan meningkatkan kemampuan anak dalam menyelesaikan soal soal tes ujian IELTS tersebut.