Category Archives: Parenting

Ayo, Imunisasi Polio

Mama, apakah si kecil sudah mendapatkan imunisasi tambahan polio? Jika belum, sekaranglah saatnya yang tepat. Selama seminggu, tepatnya 8—15 Maret ini, kembali dilaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di seluruh Indonesia. Seperti diketahui, imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit yang terbukti sangat efektif.

Baca juga : Beasiswa s2 Jerman

Banyak kematian dan kecacatan yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, di antaranya adalah polio. Polio merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang menyerang sistem saraf sehingga penderita mengalami kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak umur 0—3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku di leher, serta sakit di tungkai dan lengan. Berikut ini tanya jawab singkat mengenai PIN Polio yang penting kita pahami. Apakah PIN Polio?

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio adalah pemberian imunisasi tambahan polio untuk anak usia 0—59 bulan tanpa melihat status 26 imunisasinya (sudah mendapatkan imunisasi polio atau belum). Apa tujuan PIN Polio? Tujuan PIN Polio adalah pemusnahan secara menyeluruh (eradikasi) polio di dunia pada akhir 2020. Selain itu, juga memastikan tingkat imunitas terhadap polio di populasi cukup tinggi dengan cakupan lebih atau sama dengan 95% serta memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada anak kelompok usia 0—59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus polio.

Eradikasi polio pada lingkup global juga bisa memberi keuntungan secara finansial. Biaya jangka pendek yang dikeluarkan untuk bisa menggapai tujuan eradikasi tidak ada seberapa dibanding dengan keuntungan yang bisa didapat dalam jangka yang panjang. Tidak akan ada lagi anak-anak yang menjadi cacat disebabkan oleh polio jadi biaya yang dibutuhkan untuk rehabilitasi penderita polio bisa dikurangi. Di mana pelaksanaan PIN Polio?

Pemberian imunisasi polio dilaksanakan di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Rumah Sakit serta pospelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat Bagaimana bila anak tidak ikut PIN Polio? Balita yang tak datang atau belum mendapatkan imunisasi pada waktu hari “H” harus dikunjungi (sweeping) dan diberikan imunisasi polio dalam kurun waktu maksimal 3 hari. Mengingat pentingnya kegiatan PIN Polio ini, maka penting bagi kita untuk mendukung keberhasilan kegiatan ini.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Siapa Mengantar Si Kecil Ke Sekolah?

Umumnya para mama lebih sering mengantarkan anak pergi ke sekolah daripada para papa. Bisa jadi memang karena mama punya lebih banyak kesempatan untuk pergi bersama anak, sementara papa terikat jadwal kantor. Namun, memberikan kesempatan pada papa untuk mengantar anak ke sekolah juga perlu, lo.

Baca juga : toefl ibt jakarta

Apalagi jika papa dan mama sama-sama bekerja, boleh saja bergantian atau malah bersama-sama mengantar anak ke sekolah. Dengan mengantar bersama ke sekolah, quality time keluarga terbangun dan anak merasa dekat dengan orangtua. Sempatkan diri juga untuk melihat bagaimana anak berinteraksi dengan teman-teman dan gurunya di sekolah atau ngobrol dengan wali kelas untuk update keseharian anak di sekolah. Sedikit terlambat sampai kantor tidak masalah, yang penting bisa tetap memantau perkembangan anak di sekolah.

Needy Children

Semua anak usia dini tergolong needy children alias membutuhkan perhatian lebih banyak dari orangtua. Hal ini wajar saja, karena anak memang belum bisa melakukan banyak hal. Justru di situlah tugas kita sebagai orangtua. Tujuan pengasuhan adalah mendukung tumbuh kembang anak dan mendorong kemandirian si kecil, dengan cara memenuhi kebutuhan anak. Maka, anak yang tinggal di rumah dengan orangtua/orang dewasa yang tak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya, cenderung mengalami masalah tumbuh kembang.

Needy children umumnya merasa tidak yakin dan tidak aman (insecure) dengan kemampuan dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Jadilah anak menggantungkan kebutuhannya pada orangtua karena pasti orangtua dapat selalu membantunya. Namun, anak yang butuh perhatian tinggi seperti ini akan semakin menjadi jika orangtua juga bersikap dan berlaku demikian. Orangtua yang cenderung melakukan semuanya untuk anak, seperti menyuapi makan, memandikan, memakaikan pakaian, mengerjakan PR anak, malah membuat perilaku anak semakin muncul. Buntutnya, anak malah tidak terbiasa mandiri dan sangat bergantung pada orangtua.

Ayo Bereskan Sendiri!

Ingin si batita tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab? Latihan pertama untuknya adalah beresberes sendiri. Misalnya, ketika si batita tidak sengaja menumpahkan gelas susunya, Mama cukup memberinya lap dan memintanya membersihkan tumpahan susu itu. Atau, saat dia makan snack dari bungkusnya, minta dia membuang bungkusnya itu ke tempat sampah alih-alih meninggalkannya di kursi. Tegaskan padanya untuk selalu membereskan segala hal yang ia lakukan, karena itu adalah hasil dari apa yang ia lakukan.

Sumber : https://pascal-edu.com/

 

Menikmati Perubahan Tubuh

Perubahan ini tak bisa dihindari. Ada berlangsung yang sementara, ada juga yang menetap. Rambut Rontok Perubahan ini kerap menjadi momok bagi banyak mama, khawatir jumlah rambut makin menipis hingga akhirnya mengalami kerontokan. Padahal, rambut rontok usai melahirkan sebanyak 100 helai per hari itu wajar, kok, Ma.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Tentu Mama masih ingat, waktu hamil, rambut jadi lebih tebal dan bercahaya. Itu terjadi karena hormon kehamilan. Nah, setelah melahirkan, hormon kehamilan pun hilang, sehingga tubuh Mama otomatis akan melepaskan kelebihan helai rambut tersebut. Proses ini biasanya akan terjadi 3–4 bulan setelah melahirkan dan rambut akan kembali normal dalam jangka waktu 6–12 bulan. Kuli Bergurat-gurat Itu karena saat hamil, kulit perut Mama mengalami peregangan berlebih, dalam, dan cepat, seiring membesarnya janin dalam kandungan.

 

Coba bayangkan jika kulit Mama tidak bisa menyesuaikan secara otomatis. Nah, karena peregangan itulah muncul guratan–guratan merah pada kulit alias stretch marks (di perut dan payudara). Setelah melahirkan stretch marks berubah warna menjadi putih. Selain itu, kulit juga akan kelihatan lebih hitam, terutama di leher dan atas bibir (chloasma atau masker kehamilan), sedangkan di perut terdapat juga garis vertikal yang disebut linea negra. Jangan khawatir, Ma. Dengan mengonsumsi makanan bergizi, apalagi ditambah treatment khusus untuk kulit, maka bisa hilang, kok.

Walaupun pada beberapa kondisi bisa jadi akan menetap, coba, deh, Mama konsultasikan ke dokter. Payudara, Pinggang & Pinggul Membesar Yang paling menonjol adalah perubahan di bagian payudara. Mau tahu kenapa? Supaya si kecil bisa tercukupi kebutuhan gizinya dengan mengonsumsi ASI eksklusif enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun. Perubahan pada payudara mulai terjadi saat Mama hamil, kelenjar payudara tumbuh dan berkembang untuk memenuhi tugasnya menghasilkan air susu. Tapi biasanya akan lebih kecil pada saat menyusui dibanding kala hamil. Buat sebagian mama, payudara yang berubah besar ini tak jadi masalah, karena justru bikin Mama tambah seksi. Hmm!

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Lebih Siap Jadi Mama Baru Bag2

Fungsi bedong sebenarnya serupa selimut, menghangatkan tubuh bayi, tapi terpasang sedikit lebih erat hingga menyerupai pelukan yang menenangkan. Bedong sebaiknya dipasang agak longgar sehingga bayi masih bisa menggerakkan lengan dan tungkainya tanpa merasa “terikat”. Membedong bayi beberapa saat setelah mandi atau saat ia gelisah, mungkin membuat bayi lebih nyaman dan tenang.

Baca juga : Beasiswa d3 ke S1 Luar Negeri

Tapi hindari membiarkan bayi terbedong berlama-lama, beri kesempatan agar lengan dan tungkai bayi mendapat stimulasi supaya fungsi motorik-sensoriknya berkembang optimal. Bagaimana cara mengetahui kalau bayi saya kedinginan atau kepanasan? Pada dasarnya indra peraba bayi dan orang dewasa memiliki kemampuan setara.

 

Jika kita merasa dingin atau gerah, seperti itu juga yang dirasakan bayi. Bayi yang kedinginan bisa tampak lebih pasif, menggigil, daun telinga, dan ujung jarinya teraba dingin. Sebaliknya jika ia kepanasan umumnya akan lebih gelisah, berkeringat, dan kulitnya tampak kemerahan. Bahaya yang mungkin timbul jika bayi kedinginan adalah hipotermia (suhu tubuh <36,5°C) dan hipoglikemi (kadar gula darah turun di bawah normal).

Sedangkan dampak buruk kepanasan adalah dehidrasi dan heat stroke. Kondisikan suhu lingkungan yang nyaman, sekitar 25–28°C untuk bayi sehat yang lahir cukup bulan. Sedangkan suhu lebih hangat diperlukan jika bayi lahir kurang bulan/prematur. Bayi saya yang baru lahir kelihatannya resah, adakah hubungannya dengan proses persalinan yang panjang dan sulit? Sedikit banyak proses persalinan yang sulit memang berdampak pada bayi.

Bisa jadi saat lahir ia tidak langsung menangis, sulit bernapas, bahkan harus dibantu resusitasi dulu baru dapat bernapas adekuat (memadai). Dokter akan melakukan observasi mendalam dan bila perlu ditunjang dengan serangkaian pemeriksaan laboratorium/USG kepala untuk mengetahui sejauh mana kerusakan akibat persalinan yang sulit. Namun perlu diketahui juga, ada banyak penyebab bayi resah.

Sebaiknya Mama melakukan konsultasi detail dengan dokter yang merawatnya, supaya bisa dijelaskan penyebabnya, apakah faktor organik, fisik, atau karena hal lainnya. Saat cuaca di luar dingin dan lembap, apakah si kecil akan pilek atau batuk jika saya ajak keluar rumah? Sebelum membawa keluar, Mama perlu bertanya dulu dalam hati, apa perlu membawa bayi keluar rumah saat di luar cuaca dingin dan lembap?

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Trik Jitu Cukupi Kebutuhan Nutrisi Dan Dukung Eksplorasi Si Kecil

Halo ibu mayke, anak saya rhesa (6,3) sekarang kelas 1 sd, namun belum bisa baca dan tulis. Apakah ada hubungannya dengan tangannya yang kidal? Bagaimana cara merangsang keinginannya untuk mudah mengingat apa yang sudah ia pelajari ? Mohon ban tuannya, ya bu. Terima kasih. Sheila j iskandar– jakarta

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Saya anjurkan Sheila membawa Rhesa ke Klinik Tumbuh Kembang Anak atau ke Biro Konsultasi Psikologi yang memberikan layanan asesmen psikologis terhadap kemampuan anak. Saya khawatir terjadi kelambatan pada perkembangan Rhesa, bisa pada aspek kognitif atau mungkin pada aspek lainnya . Apakah perkembangan Rhesa sejak bayi mengalami keterlambatan? Misal, usia berjalan lebih dari 15/16 bulan? Usia 2 tahun belum mampu mengucapkan kata-kata tunggal?

Usia 3 tahun belum mampu menyebutkan kalimat yang terdiri dari tiga kata atau lebih? Usia 4 tahun belum mampu menceritakan kembali kejadian yang dialami anak? Apabila jawabnya “ya”, berarti tidak menghe rankan kalau di usia 6,3 tahun, Rhesa belum mampu membaca dan menulis kata-kata sederhana. Kemampuan baca dan tulis tidak bergantung pada kidalnya seseorang. Jadi, sebaiknya Sheila segera merujuk si kecil ke ahlinya.

Enam bulan ingin diajak berenang

Dokter rifan yang baik, anak saya andrew (usia 6 bulan , berat 1o,5 kg), bolehkah mulai diajak berenang? Apa manfaatnya? Per alatan apa yang mesti saya sediakan supaya si kecil aman berenang? Kalau pakai pelampung, yang di leher, di pinggang, atau di tangan? Mohon saran dokter rifan. Terima kasih. Carla – jakarta Ibu Carla yang baik, mengenalkan “olahraga ” berenang pada si kecil tidak ada masalah. Manfaatnya tentu lebih kepada faktor rekreasi dan kesenangan psikologis si kecil. Mengenai jenis pelampung yang digunakan sebaiknya yang paling aman untuk si kecil, tampaknya pelampung di leher yang lebih aman mengingat faktor keseimbangan tubuh saat ia berada di dalam air lebih terjaga. Yang terpenting, ia selalu harus dalam pengawasan ketat, air kolam yang hangat, tidak bercampur dengan banyak orang dan diusahakan agar si kecil tidak sampai kedinginan dan ia dalam kondisi yang sehat.

Wah! Menunjukkan Ketertarikan

Lalu kapan kita menyadari bahwa si batita siap bicara? Yaitu ketika batita mulai tertarik dengan benda-benda atau apa pun yang ada di sekelilingnya. Peran orang dewasa di sekitarnya sangat besar untuk membantu batita mengenali atau menyebut benda yang ia maksudkan tersebut. “Adik lihat bola, ya? Ini namanya bola, bentuk bulat, warnanya merah, juga bisa berputar.” Ikuti minat atau eksplorasi batita terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan alami.

Baca juga : Tes Toefl Jakarta

Saat ada tamu datang ke rumah dan si batita menghampiri, kita bantu dengan mengenalkannya, “Ini namanya Kakak Fani. Ayo, dong, bilang, ‘Halo, Kakak Fani…’” Jika batita belum merespons dengan tepat, tidak perlu dipaksa karena mungkin ia belum tertarik melakukannya. Kita bisa mencobanya di lain kesempatan. Selain itu, dianjurkan untuk tidak terlalu banyak mengoreksi usaha batita saat bicara. Saat ia baru bisa mengatakan “cucu” atau “usus” saat menginginkan susu, kita tidak perlu mengoreksi tetapi membantu mengulang kata tersebut dengan pengucapan yang benar.

“Oh, Kakak mau susu ya? Ini susunya.” Jangan memaksanya untuk mengulangi perkataan itu dan menuntutnya untuk mengucapkan kata “susu” dengan tepat saat itu juga. Perkembangan anak bisa juga sulit ditebak. Kita mungkin sudah cukup aktif mengajak bicara, tetapi ia belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mengucapkan kata-kata. Tetapi saat sudah tidak diharap-harap, mendadak si batita bisa bicara. Seperti yang dialami Fira ketika tiba-tiba saja Arfi bicara dengan cukup panjang, “Itu, ada bapaknya!” sambil menunjuk kucing kecil dan kucing besar yang melintas di depan mereka.

Yang penting, menurut Ika, kita perlu mewaspadai keterlambatan bicara jika sampai usia 3 tahun si batita belum juga mengucapkan minimal 20 kata. “Segera lakukan evaluasi pada pola pengasuhan. Mungkin batita terlalu banyak terpapar layar teve atau orang di sekitar batita kurang aktif mengajaknya bicara. Lalu lakukan perubahan dalam memberikan stimulasi. Jika dalam satu bulan tidak ada perkembangan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan pakar,” saran Ika.

Sumber : pascal-edu.com

Kabar Baik Terapi Kesuburan

Menurut laporan hasil pengamatan selama 20 tahun yang dilakukan oleh para ahli di Denmark, janin yang dikandung oleh mama yang menjalani tera pi kesuburan memiliki risiko lebih kecil untuk lahir prematur ataupun meninggal dalam kan dungan. Selain itu, angka bayi yang lahir de ngan berat badan rendah atau mening gal dalam kurun waktu satu tahun pertama hidupnya juga sangat kecil. “Hasil pengamatan ini memperlihatkan, terapi kesuburan memiliki efek penting bagi kesehatan bayi yang nantinya dilahirkan,” kata Dr. Anna-Karina Aaris Henningsen, salah satu pakar dari University of Copenhagen, Denmark.

Dilanda Mood Swing

Perubahan hormon akibat kehamilan sangat bisa mengubah pe rangai Mama. Misalnya, pernyataan pasangan yang biasanya membuat Mama tertawa, kini terdengar basi dan mengganggu. Mama jadi sulit mengontrol mood dan bingung sendiri dengan perubahan yang tiba-tiba. Agar komunikasi dengan pasangan tak lantas tegang, namai saja mood swing atau perubahan mood tiba-tiba Mama dengan panggilan lucu. Atau, sepakati kode khusus untuk suami, sehingga ia tahu kapan harus diam dan memberikan ruang untuk Mama.

Bayi Tak Butuh Lingkungan Steril

Apa resep agar daya tahan tubuh bayi da pat terbentuk op timal, sehingga tak mudah sakit sekaligus tidak ren tan terhadap alergi? Pastikan pen cernaannya terpapar oleh berbagai mikroorganisme, ujar Christine Cole Johnson, PhD, MPH, dari Department of Public Health Sciences, Henry Ford Hospital. Mik robioma atau bakteri pencernaan adalah sekumpulan mikroorganisme yang terdapat di saluran pencernaan dan berperan penting dalam perkembangan sistem daya tahan tubuh.

“Riset menunjukkan, paparan bakteri pencernaan pada bulan-bulan pertama kehidupannya bisa membantu merangsang sistem daya tahan tubuh bayi,” kata Dr. Johnson. Hasil riset juga memperlihatkan, bayi yang mengonsumsi ASI pada bulan pertama dan keenam memiliki komposisi mikrobioma yang dapat memengaruhi perkembangan sistem daya tahan tubuhnya. Selain ASI, terdapat beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi komposisi mikrobioma pencernaan, antara lain usia gestasional saat bayi dilahirkan, metode persalinan, dan keberadaan hewan peliharaan di rumah.

Vaksinasi Yang Tidak Menyakitkan

Tangisan bayi ketika divaksinasi itu ternyata bukan semata-mata lantaran kaget, melainkan karena benar-benar kesakitan. Rasa sakit ini menghasilkan pola yang konsisten dan menonjol pada aktivitas otaknya, demikian menurut studi yang dimuat di jurnal PAIN, publikasi resmi dari International Association for the Study of Pain.

Pola aktivitas otak yang terekam dalam alat elecroencephalography (EEG) ini sesuai dengan pola perilaku yang ditunjukkan oleh bayi, seperti ekspresi wajah, tangisan, serta gerakannya. Tak heran bila vaksinasi yang tampaknya tidak berbahaya justru bisa menjadi sumber ketakutan dan stres bagi bayi dan anak-anak, apalagi mengingat tindakan ini dilakukan secara rutin selama beberapa tahun pertama kehidupan anak. Dari riset ini, peneliti merekomendasikan adanya manajemen rasa sakit selama proses vaksinasi, supaya rutinitas ini tidak perlu jadi momok bagi bayi maupun orangtua.

Dan ketika anak telah tumbuh besar kelak, sebaiknya berikan ia pelatihan di kursus IELTS terbaik di Jakarta untuk menghadapi tes ujian masuk universitas. Karena dengan persiapan yang matang akan membantu anak dalam menggapai impiannya kuliah di universitas ternama. Dengan pengajar yang profesional, akan meningkatkan kemampuan anak dalam menyelesaikan soal soal tes ujian IELTS tersebut.