TAK JERA BERADA DI PENJARA

TAK JERA BERADA DI PENJARA

PENJARA tak lagi bisa diandalkan untuk menginsafkan penabrak hukum. Empat tahun mendekam di balik terali besi, Muhammad Nazaruddin justru terkesan lebih leluasa bermain proyek pemerintah. Lewat kaki tangannya, bekas Bendahara Partai Demokrat yang tengah dititipkan di tahanan Guntur, Jakarta, itu diduga telah menekan dan mengancam Bupati Rokan Hilir, Riau, Suyatno. Ada pesan pendek yang diperkirakan berasal dari telepon seluler orang kepercayaan Nazaruddin.

Isinya mengingatkan agar penerima pesan tidak lupa memberi jatah. Lewat pesan itu, Nazaruddin merasa punya andil besar dalam mengegolkan dana alokasi khusus untuk Kabupaten Rokan Hilir. Politikus yang divonis hukuman tujuh tahun penjara karena kasus suap proyek Wisma Atlet ini mengisyaratkan akan menyeret si penerima pesan masuk penjara bila ia tidak memperoleh fee. Akal sehat terasa berputar 180 derajat. Orang yang lingkup hidupnya sangat dibatasi dan di bawah pengawasan ketat ternyata dapat mengancam orang yang masih menikmati udara bebas.

Temuan mengenai permainan Nazaruddin itu mengindikasikan lembaga pemasyarakatan benar-benar telah impoten dalam menjalankan fungsi pengawasan. Penegak hukum, terutama Komisi Pemberantasan Korupsi, perlu turun tangan untuk menyelidiki ancaman dan aktivitas Nazaruddin. Apalagi ia juga disebut-sebut masih berada di belakang sederet perusahaan baru yang ”berbelanja anggaran” ke Dewan Perwakilan Rakyat. Dulu Grup Permai yang dimiliki Nazaruddin itu mengatur dan menggelembungkan anggaran karena sebagian digunakan untuk fee perusahaan, pejabat, hingga politikus Senayan.

Kini Nazaruddin diduga juga masih bermain antara lain dengan meminta uang jasa dari permainan anggaran. Aktivitas Nazaruddin yang mencurigakan selama di penjara sebetulnya sudah terendus lama. Dalam kesaksian di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, bekas anak buah Nazaruddin, Clara Mauren, mengaku ikut menghadiri rapat perusahaan Nazaruddin yang diadakan di kantor Kepala Rumah Tahanan Cipinang pada 2011.

Di penjara Sukamiskin, yang memiliki sistem pengawasan lebih ketat, rupanya Nazaruddin masih bisa memanfaatkan celah pengawasan. Adanya telepon seluler di tangan Nazaruddin untuk mengirim ancaman menunjukkan hal itu. Berkaca pada kasus sejumlah tahanan—Gayus Tambunan, yang dapat keluar-masuk penjara seenaknya; terpidana mati Freddy Budiman, yang bisa menjalankan bisnis narkotik dari penjara; dan Nazaruddin, yang diduga sanggup mengelola bisnisnya dari hotel prodeo ini tampaklah penjara kita belum berubah: sering sekali menjadi batu sandungan dalam perjuangan menyikat habis korupsi dan narkotik.

Semestinya tidak sulit mendeteksi keberadaan telepon seluler dan alat komunikasi lain di penjara. Dengan kamera pengawas di setiap sudut penjara, tak ada barang yang bisa disembunyikan tanpa setahu petugas. Kamera tidak sekadar terkoneksi ke server di lembaga pemasyarakatan, tapi juga bisa diakses lewat telepon seluler Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly. Sayang sekali, Menteri Yasonna, yang bisa mengakses semua closedcircuit television yang terpasang di penjara lewat sentuhan jarinya, pun masih kecolongan.

Penting sekali meningkatkan pengawasan di penjara agar narapidana tidak bisa meneruskan praktek kotornya. Penegak hukum pun harus bertindak tegas dan berani mengusut narapidana yang belum insaf. Narapidana seperti Nazaruddin perlu diseret lagi ke pengadilan dan dijatuhi hukuman lebih berat jika terbukti masih meneruskan kejahatannya. l

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *